agar hati tak salah mencintai
yap, sebenernya gue gak sengaja baca iklan tentang suatu buku yang judulnya kayak judul postingan ini. dan ternyata apa yang ada di kepala gue emang tentang ini..
semalem gue belajar banyak dari ngobrol sama seseorang. ternyata emang udah biasa ya, ada seorang cewek yang kayaknya udah ngebelain banyak hal untuk cowok yang dicintainya, tapi si cowok tetep ngerasa kurang. dan kadang gue bingung, kalo emang si cewek sama si cowok ini gak sepaham, untuk apa tetap mencintai?
untuk apa mencintai orang yang salah?
lebih berharga mana, mencintai orang yang sedang anda cintai tapi tidak membawa kebaikan kepada diri anda, atau berhenti mencintai orang yang sedang anda cintai dan memberikan kebaikan pada diri anda?
kalo buat saya, di atas perasaan ada komitmen. komitmen adalah sebuah kesepakatan yang kita buat dengan diri kita sendiri. kalau diibaratkan dengan sebuah organisasi, komitmen ini yang menjadi statuta atau AD/ART. komitmen inilah yang menata agar perasaan kita (dalam hal ini ego) tidak mengacaukan apa yang menjadi tujuan kita di awal.
misalnya, awalnya kita sudah berkomitmen untuk mengerjakan revisi draft TA. tapi karena kita cinta dengan kesenangan, maka terkadang kita jadi lupa mengerjakan revisi dan malah main DoTA. misalnya, kita sudah berkomitmen untuk berhenti merokok. tapi karena kita ingin bercinta dengan rokok, maka kita sulut lagi satu batang rokok. ini berarti komitmen kita masih kurang.
profesional. dalam hidup harus profesional dan harus dewasa. di dunia ini perasaan pasti berubah-ubah, tapi yang namanya komitmen seharusnya tidak.
maka dari itu setiap perasaan muncul, kita harus mengcrosschecknya dengan aturan-aturan yang sudah kita buat dengan diri sendiri. sesuaikah dengan tujuan hidup kita, sesuaikah dengan value yang kita anut? mungkin bagi umat beragama, komitmen dalam hidup adalah ketika menganut agama tertentu. seharusnya kita bisa melaksanakan semua yang diperintahkan dan menjauhi larangan dengan mengesampingkan ego dan hawa nafsu.
nah, sejauh ini baru ini yang gue pahami. tapi gue percaya di atas komitmen ada hal lain. jika menuruti ego berarti kalah, maka berkomitmen adalah berusaha dengan sungguh-sungguh. tapi berusaha dengan sungguh-sungguh pun tidak menjamin kemenangan. tapi tanpa berusaha sudah pasti kalah. ya, untuk final result, ada yang namanya ketetapan. dia lebih berkuasa dibandingkan komitmen.
tapi tanpa komitmen, ketetapan itu hanya menjadi dongeng belaka..
ah udahan ah ngelanturnya