Lancelot’s final tip, however, is a little more difficult to follow. He tells his eager student that he can’t care about living or dying. Mark stares into his face, astonished; Lancelot smiles sadly and walks off into the sunset like a medieval cowboy.
The Upside of Irrationality , a vignette “Caring As A Double-Edged Sword”
Mungkin karena bahasa pertama kita sebenarnya adalah puisi.. maka Tuhan kirimkan firman-Nya dalam bait-bait indah, karena memang itulah bahasa Ibu kita..
Mereka bilang hidup bukan seperti saklar, tekan sekali maka lampunya akan menyala terus.

Dalam pendakian yang semakin menanjak, aku kadang sedikit tertawa tersedak.

Begitu naifnya aku ketika merasa sudah menemukan-Mu, padahal aku baru sampai pada gerbang jalan-Mu

Begitu naifnya aku ketika merasa sudah menjadi sebaik-baiknya manusia berpotensi, padahal sama sekali tak punya kendali diri

Setiap harinya aku bertanya, apa maksud dibalik ini semua

Dan yang utama, bisakah aku melampauinya?

Untuk Tuhan yang di atas Arsy, Untuk Dia yang begitu dekat dengan urat leher

TUHAN, sampai kapan Engkau ijinkan aku untuk jadi pendosa?

aku tak kuat lagi. tak kuat untuk menahan rasa bersalah atas tetesan dosa yang aku perbuat.

bukannya aku takut neraka. aku hanya merasa tidak enak hati.

Engkau begitu penyayang dan pengasih. aku percaya bahwa Kewelasasihan-Mu kelak akan menolongku- entah bagaimana caranya -dari api neraka yang begitu menyala

Aku selalu paham bahwa Engkau menyayangiku dan mencintaiku

yang aku tak paham adalah mengapa dengan segala ke-Maha-Baik-an-Mu, aku masih saja menjadi pendosa..

ingin sekali aku melakukan semua ini demi cinta.. karena ketika cinta itu ada, maka seseorang akan melakukan semua yang disuka oleh Yang Dicintanya, dan menjauhi semua yang dibenci oleh Yang Dicinta..

Tapi Tuhan, rupanya aku hanyalah makhluk rapuh, yang setiap harinya kalah oleh musuhku yang begitu nyata.

mulai dari dosa zhahir, hingga dosa bathin..

aku kalah Tuhan..

nilaiku sebagai manusia tak mampu melawan semua ini..

Aku mohon, genggam tanganku, bimbing langkahku

aku tersesat.. terlalu jauh.. lemah tanpa-Mu

Slaves to the luxury, to the appearance of luxury, to the appearance of the appearance of luxury. Slaves to a life they had not chosen, but which they had decided to live because someone had managed to convince them that it was all for the best.
Zahir, Paulo Coelho
Pasti pada suatu universe akan ada saya yang sedang menjadi mahasiswa di fakultas seni atau desain.
Apa ya fik, mungkin kalo bahasa lo ‘istiqomah’nya masih kurang. Terus, lo tuh masih butuh dikasih motivasi banget, masih belum bisa memotivasi diri sendiri
Bulan Januari 2012. Perkataan si teman pas lagi nunggu hujan reda di ngopdoel deket gramedia.. ah, kamu benar sekali, sampai sekarang saya pun masih demikian.

saya masih harus banyak belajar

dulu saya pikir saya tahu segalanya, sebab saya merasa telah bisa meraba esensi dari semua. tapi rupanya esensi yang sederhana itu telah diteteskan pada kolam kompleksitas.

menyisakan saya yang tidak tahu apa-apa

Kalo lo yakin lo cowo baik, jangan putusin cewek lo. Karena kalo sama cowo lain belum tentu kayak pas sama kita.
Imam Reiza Fahlevi

Berbeda

Tidak semua orang beruntung dan bisa terlahir dalam kondisi yang sama dengan kebanyakan orang. Lahir tanpa cacat, mendapatkan asupan nutrisi yang cukup hingga berkembang dengan sehat. Lalu, memiliki kesempatan untuk belajar membaca, menulis, dan berhitung, hingga akhirnya pendidikan formal pun bisa dimiliki. Tak semua orang beruntung dan bisa mendapatkan berbagai fasilitas yang mencukupi kebutuhan, sebab kebetulan orang tuanya mampu.

Juga tak semua orang mendapatkan kesempatan untuk tumbuh dalam suatu tataran keluarga yang utuh. Ada Bapak yang pagi-pagi sudah bersiap berangkat kerja ke kantor. Sebelum berangkat sekolah bisa mencicipi sarapan buatan Ibu. Lalu, bersama dengan adik-adik yang sangat akrab, mencium tangan orang tua, sebelum akhirnya diantarkan ke sekolah.

Bebas bercita-cita. Sebab dunia yang dilihat begitu luas. Semuanya terasa mungkin. Tak ada yang tak bisa dilakukan. Tumbuh dan berkembang sesuai dengan apa yang diinginkan. Apa yang dimau selalu bisa didapatkan. Tak perlu berpikir tentang hidup susah. Ya, untuk apa hidup susah, akhir pekan pun pasti bisa bertemu dengan seluruh anggota keluarga, bercengkrama, dan bersendagurau bersama. Harmonis, indah, saling menghormati, saling terbuka.

Tapi, ada pula mereka yang ditakdirkan untuk memiliki kehidupan berbeda. Buat orang-orang seperti ini, mereka harus siap menerima kenyataan bahwa yang ia alami memang tak pernah ‘biasa’.

Ada yang ibunya tak bisa memasak, dan selalu sibuk bekerja. Jika anaknya sedang mencari perhatian, yang diberikannya adalah uang agar si anak tak mengganggu pekerjaannya. Ada yang ayahnya seorang pejabat yang selalu sibuk rapat ke sana kemari. Ayah tak pernah ada waktu untuk mengobrol. Yah, sesekali ayah mengajak jalan-jalan untuk membeli mainan dan pakaian, atau sekedar makan di restoran. Tapi Ayah, tetap akan sibuk dengan telepon genggamnya. Adik atau Kakak? Ah, mereka punya kehidupannya masing-masing. Jarak dalam ruang boleh sangat dekat, tapi jarak dalam batin jauh menuju tak hingga.

Ada pula yang orang tuanya berpisah. Dari kecil anak-anak terbiasa melihat pertengkaran. Kesibukan dalam pekerjaan dan konflik dalam hubungan tak jarang membuat anak-anak ‘terlantar’. Ah iya, anak-anak masih bisa makan, masih bisa sekolah, masih bisa bermain, tak ada masalah.

Ada pula yang sejak lahir tak pernah mengenal Ayahnya. Tak tahu Ayahnya dimana, apakah sudah meninggal atau masih hidup, jika hidup bekerja dimana? Tak tahu. Tak pernah tahu. Yang dia tahu hanyalah Ibu. Ibu yang membesarkan saya, Ibu yang membiayai hidup saya. Dan Ibunya memang tak pernah memberi tahu tentang Ayahnya, atau menceritakan bahwa Ayahnya sudah lama meninggal.

Ada pula yang ibunya sudah meninggal. Lalu Ayah dan Adiknya menyeberang perbatasan negara dan beralih kewarganegaraan demi kesejahteraan. Ia hidup dengan kakeknya di sebuah dusun yang benar-benar tertinggal. Jauh dari ricuh gemuruh kota metropolitan. Sekolah dengan nilai yang jauh dari sepuluh, seragam yang jauh dari layak, dan bahkan alas kaki.

Tapi perbedaan itu rupanya bukan ada pada situasi yang ada. Situasi dan segala fasilitas tak menjamin seseorang untuk menjadi ‘bermutu’. Situasi yang begitu sulit dan berbeda dari kebanyakan pun tak menjamin seseorang untuk menjadi ‘kacangan’. Dan bayangkan, dengan kondisi-kondisi yang berbeda tadi-yang dianggap tidak normal-jika mereka bisa mendekati atau bahkan melampaui prestasi mereka yang ‘normal’, orang-orang itu justru akan menjadi lebih kuat. 

Sebab mereka tahu bahwa keterbatasan hanya bisa dilihat oleh di mata.. Dan mereka tahu, bahwa hidup harus dipandang tak cukup dengan dua bola mata, tapi juga senyala mata hati..


astrotastic:

tastysynapse:

Zen Pencils Comic: 100. CARL SAGAN: Pale blue dot

excuse me, no one is allowed to make me cry like that

(Reblogged from imagineatoms)
Close your eyes, fall in love, stay there.
Rumi (via amaliarf)
(Reblogged from amaliarf)