The Latest

Kadang lupa kalau Eyang Putri sudah kepala 7.. ingetnya Eyang masih 50an aja. Waktu TK dulu saya mogok sekolah tapi gak bisa masuk SD di Jogja karena umur belum cukup. Akhirnya saya SD di Malang, tinggal bersama Eyang Putri dan almarhum Eyang Kakung. Eyang Putri banyak mengajarkan saya lagu-lagu daerah, cerita-cerita Nabi dan walisongo, serta mengajari saya untuk selalu membaca ayat kursi sebelum tidur. Masih segar di ingatan saya ketika saya berusaha menghapalkan ayat kursi dari kelas 1 SD. Tak terasa, 17 tahun sudah berlalu sejak saat itu. Alhamdulillah.
Oct 19, 2014 / 2 notes

Kadang lupa kalau Eyang Putri sudah kepala 7.. ingetnya Eyang masih 50an aja. Waktu TK dulu saya mogok sekolah tapi gak bisa masuk SD di Jogja karena umur belum cukup. Akhirnya saya SD di Malang, tinggal bersama Eyang Putri dan almarhum Eyang Kakung. Eyang Putri banyak mengajarkan saya lagu-lagu daerah, cerita-cerita Nabi dan walisongo, serta mengajari saya untuk selalu membaca ayat kursi sebelum tidur. Masih segar di ingatan saya ketika saya berusaha menghapalkan ayat kursi dari kelas 1 SD. Tak terasa, 17 tahun sudah berlalu sejak saat itu. Alhamdulillah.

Jadi gw habis makan terus beli PVC roll untuk nyampul buku. Sambil main2in rolnya, gw nyanyi dalam hati karena tiba2 terngiang lagu ylvis, “my life is so successful.. i got everything a man could ever need.. blablabla what’s the meaning of stonehenge.. I bought from the local store.. and she’s playing with my balls.. blablabla the technology we have today” sembari ke atm dan memasukkan kartu. 
And then nothing happened… 

udah gw pencet2 cancel gak ngaruh.. gw udah coba sogok2 pake kartu e-payment kantin kampus juga ga ngaruh. .. gw coba telepon hotline.. eh pulsa gw abis…

akhirnya gw nyoba pake telepon yg ada di situ. Walaupun suaranya kecil tp akhirnya gw tau kalo kartu atm gw ketelen. Ini adalah pertama kalinya seumur hidup ngerasain kartu ketelen. Dan segala macam proses nelepon + nunggu customer servicenya ampe setengah jam sendiri. Fyuh at OCBC Bank – View on Path.
Oct 16, 2014

Jadi gw habis makan terus beli PVC roll untuk nyampul buku. Sambil main2in rolnya, gw nyanyi dalam hati karena tiba2 terngiang lagu ylvis, “my life is so successful.. i got everything a man could ever need.. blablabla what’s the meaning of stonehenge.. I bought from the local store.. and she’s playing with my balls.. blablabla the technology we have today” sembari ke atm dan memasukkan kartu.
And then nothing happened…

udah gw pencet2 cancel gak ngaruh.. gw udah coba sogok2 pake kartu e-payment kantin kampus juga ga ngaruh. .. gw coba telepon hotline.. eh pulsa gw abis…

akhirnya gw nyoba pake telepon yg ada di situ. Walaupun suaranya kecil tp akhirnya gw tau kalo kartu atm gw ketelen. Ini adalah pertama kalinya seumur hidup ngerasain kartu ketelen. Dan segala macam proses nelepon + nunggu customer servicenya ampe setengah jam sendiri. Fyuh at OCBC Bank – View on Path.

Oct 16, 2014 / 1 note

Footnote

1. Don’t be sad knowing the stuff that you’re now working on is not yet optimum. If it’s not optimum, then you can optimize it.

2. It’s important to note several cases where it goes contrary to you hypothesis. Just like Charles Darwin did. Sometimes we have the tendency to discard findings that doesn’t fit.

"It is a capital mistake to theorize before one has data. Insensibly one begins to twist facts to suit theories, instead of theories to suit facts."

3. Scrupulous attention to the detail is important. The way you code. The way you design the simulation. The variables in play. Go through all of them thoroughly.

4. Always find things to improve. Seek way to bring efficiency.

5. Discuss, discuss, discuss!

Oct 14, 2014

Thought via Path

"Kata mas Ivan kita nggak boleh pindah dari suatu tempat karena kita nggak suka sama tempat itu. Seharusnya kita pindah ke tempat lain karena tempat lain itu lebih baik."
-Dea Titanigo yang kembali mengingatkan saya akan ajaran-ajaran Ivandeva sekaligus mengingatkan saya apa kepanjangan dari STG :)) with Dellyna – Read on Path.

What do you see? We do not see things as they are. We see things as we are. Those who know will not speak. Those who speak do not know. Birds are looking for Simurgh. Simurgh is looking for them. For everything you see is the face of Simurgh while Simurgh is sitting at the throne; closer to you than your jugular vein.
Oct 9, 2014

What do you see? We do not see things as they are. We see things as we are. Those who know will not speak. Those who speak do not know. Birds are looking for Simurgh. Simurgh is looking for them. For everything you see is the face of Simurgh while Simurgh is sitting at the throne; closer to you than your jugular vein.

Oct 7, 2014
Oct 7, 2014 / 1 note

Dengan Cita-cita, Kita Bersyukur

Hei Nak, dalam hidup selalu terdapat naik turun. Saat Tuhan memberikan kita ujian, dari situ ketahanan dan keimanan kita diuji. Dengan menjadikan sabar dan sholat sebagai penolong, maka kelak kita akan paham bahwa kesabaran tidak ada batasnya, selama kita berpegang pada kekuatan yang Maha Tak Hingga. Berat memang, tapi kita harus bertahan.

"Hidup ini adalah sebuah cerita, yang didalamnya terdapat kisah sedih. Tetapi kisah sedih ini akan segera berakhir. Dan kalau itu terjadi maka jadilah orang yang pandai-pandai bersyukur."

Aku membacanya dari tulisan-tuisan Guruku. Kata-kata itu adalah salah satu kata-kata yang begitu berkesan mendalam pada saat aku mengalami salah satu masa terberat dalam hidupku. Mulanya, aku mencari yang namanya kepastian. Namun, pada akhirnya aku tahu bahwa manusia selamanya tidak akan bisa memastikan, yang bisa ia lakukan adalah berdoa supaya diberikan yang terbaik oleh Tuhan, serta diberikan kekuatan untuk dapat menerimanya. Dan Tuhan, Dia Maha Penyayang, tidak akan membuat kita sedih selamanya… kesedihan itu pasti akan berlalu.

Dan saat kesedihan itu berlalu Nak, aku tak kuasa menahan haru. Segala yang seolah dulu telah hilang, kini diberikan lagi oleh-Nya. Harapan, rezeki, dan beragam kesempatan lain. TIdak hanya itu, saat kita sempat kehilangan sesuatu, lalu kita bisa mendapatkannya lagi, kebahagiaan yang kita peroleh akan menjadi dua kali lipat atau bahkan lebih.

Di saat itu pula aku mulai dapat meraba mengapa Tuhan terhadap hamba-Nya yang bertaubat setelah berpaling, diibaratkan sebagaimana seseorang yang kehilangan unta yang membawa makanan dan minumnya di suatu perjalanan, lalu unta tersebut kembali ke di hadapannya. Keimanan yang telah bertambah tebal setelah berbagai ujian keimanan akan terasa lebih berharga. Apalagi jika ia sempat hilang atau terkotori oleh hal-hal yang lain. Tuhan Maha Penyayang, maka dari itu dia berikan kita cobaan, agar kita lebih bisa menghargai segala nikmat yang telah dia berikan,

Maka setelah perasaan itu muncul beserta dengan kebahagiaan tiada tara, muncul pula sebuah pertanyaan, bagaimana kita harus mensyukuri semua karunia itu? Apalagi Tuhan selalu bertanya, nikmat-Ku mana lagi yang kau dustakan?

Pertanyaan ini tentu harus dijawab dengan melakukan puji syukur sebanyak-banyaknya. Dari dalam hati, perkataan, perbuatan maupun segala yang kita tuliskan di dunia nyata maupun maya. Cerminkanlah nilai syukur. Pancarkan ia dalam pribadimu. Sehingga orang lain pun dapat merasakan dan tertular kebahagiaan dan semangat dari syukurmu.

Sebab, rasa syukurlah yang membuat kebahagiaan terasa lebih membahagiakan Nak. Apalagi setelah Kau ditimpa kesedihan panjang. Ia bagai tetesan air ditengah dahaga tak terkira. Sungguh saat segala karunia itu datang, kau akan bingung dibuatnya. Bingung sebab syukurmu seolah tak pernah cukup. Ribuan puja-puji dan sujud rasanya tak akan cukup.

Dan saat kebimbangan seperti itu tiba, ingatlah bahwa cara mensyukurinya adalah dengan cinta dan cita-cita. Dengan dua hal itu Kau akan bisa menjalani hidup dengan lebih menyala. Dengan cinta, Kau tak akan lelah menyalurkan segala nikmat yang dikaruniakan padamu kepada hamba-hamba-Nya yang lain. Berbagilah sebanyak yang Kau bisa pada orang-orang terdekatmu. Dengan cita-cita, maka kau akan melanjutkan misi hidup, mengapa Kau dikirim ke bumi ini. Itulah rasa syukur yang sejati. Berusaha menjadi wakil-Nya yang baik di muka bumi.

Nak, pernahkah kau berpikir, mengapa orang-orang yang mengenal Tuhan tidak sukses di dunia, sedang mereka yang tak bertuhan justru mendapatkan sukses yang menyilaukan? Itu karena orang-orang yang beriman kurang atau bahkan tidak bersyukur. Mereka telah diberikan jalan menuju persinggahan abadi, tapi mereka lupa bahwa di dunia ini pun dia mengemban misi untuk memajukan peradaban. Mereka merasa cukup dengan akhirat. Padahal, seharusnya, mereka bisa mensyukuri hadiah akhirat tersebut dengan menjadi perpanjangan Tuhan di muka bumi.

Maka Nak, bersyukurlah dengan cinta dan cita-cita!

*Hei Nak, surat yang ini sebenarnya sudah aku tulis sejak lama. Seharusnya ia diketikkan sekitar bulan Juli 2014. Sayangnya, aku sendiri tak sengaja menghapus isinya. Dan sebenarnya surat itu adalah salah satu surat yang paling sulit dituliskan.

Oct 7, 2014

Merawat Gajah

Hei Nak, rasa ingin tahu dan sikap kritis merupakan hal yang tertanam pada diri manusia. Tanpa dua hal itu, Ibrahim mungkin tak akan pernah menemukan Tuhan. Begitu pula denganmu, tanpa dua hal itu kau pun tak akan bisa meraih kebenaran yang sejati. Kebenaran hanya dapat direngkuh oleh mereka yang ingin tahu tentang yang benar, mereka yang bertanya tentang hal-hal yang belum teryakinkan, yang tidak puas hidup dengan fondasi asumsi yang rapuh. Kebenaran, hanya tersedia bagi mereka yang merindukannya, dan mau berlari untuknya.

Namun Nak, seiring dengan terejawantahkannya dua hal ini, tanyamu akan memperoleh jawaban yang berujung pada pertanyaan yang baru. Sering, sampai di situ kau berpikir kau telah mencapai kebenaran absolut. Padahal bisa jadi, dua tahun dari sekarang kau akan melihat ke belakang dan bergumam, betapa naifnya diriku dahulu.

Pengetahuan yang kita dapatkan seperti seberkas cahaya dalam gulita. Awalnya mungkin pemahaman yang kita dapatkan sebatas lilin. Hanya mampu memberi terang pada lingkaran yang kecil. Seiring dengan pencarian, dia mungkin akan sedikit membesar sebab yang menerangi adalah lampu senter. Tapi ingatlah, semakin besar lingkaran yang disinari cahaya, maka semakin besar pula lingkaran kegelapan yang menyelimutinya. Jika kita fokus pada bagian yang diterangi cahaya, mungkin kita merasa kita sudah tahu banyak hal. Tapi, jika kita sadar akan kegelapan yang menyelimutinya, kita akan tahu betapa minimnya pemahaman kita.

Iya Nak, jangan sampai dua hal ini bertemu dengan katalis yang salah. Katalis yang salah adalah kesombongan, ego. Ini yang membuat kau merasa benar sendiri, padahal bisa jadi pendapat orang lain merupakan suatu lingkaran cahaya lain yang terletak pada kegelapan dalam ruang wawasanmu. Aku harap kelak kau paham Nak, bahwa ruang pemahaman setiap orang berbeda-beda, begitu pula cahaya yang sudah menerangi ketidaktahuannya. 

Maka kau harus belajar mengendalikan egomu. Sehingga, kelak saat kau begitu ingin menyalah-nyalahkan orang yang salah, mencacinya, kau bisa berdiam diri sejenak. Lalu memahami sesuatu: tak usah disalahkan dan dihina-hina pun sebenarnya memang salah. Maka yang timbul dari sana adalah rasa welas asih: mereka tidak tahu, untuk apa kita menambah beban hidup mereka dengan berdebat. Lagipula toh, itu tadi, kita sendiri belum tentu benar.

Guruku pun pernah bercerita tentang kisah saat Abu Bakar dicerca. Dua kali dicerca, Abu Bakar diam, Rasulullah masih duduk bersamanya. Saat cercaan ketiga Abu Bakar membalas, Rasulullah pun pergi. Lalu beberapa saat (satu atau dua jam barangkali) kemudian, Abu Bakar bertanya dan Rasulullah menjawab, “Aku lihat kau dicerca orang, ada satu malaikat membantumu, kau diam. Waktu kau dicerca untuk kedua kali, dan kau diam, satu malaikat membantumu. Namun saat ketiga kali dan kau membalas, malaikat pergi, setan datang membantumu. Aku Rasul, tak mungkin duduk bersama setan. Aku pergi.

Maka Nak, dalam pencarian kebenaran, lakukanlah dengan cara yang baik. Jangan biarkan setan yang membantumu dalam pencarian kebenaran. Kebenaran sejati harus dicari dengan kerendahan hati, agar malaikat dan Rasulnya beserta penerusnya tetap bisa membantumu. Ingat, ketidaktahuan hanyalah ketiadaan dari cahaya penerang. Dan cahaya itu tentu saja bersumber pada Yang Maha Berilmu.

*Hei Nak, aku kembali menulis surat. Aku tak tahu mengapa surat ini berjudul “Merawat Gajah” sebab sepertinya sudah lama ia tersimpan sebagai draft. Tapi aku melihat isi surat ini memiliki keterkaitan dengan beberapa hal yang bercokol di pikiranku akhir-akhir ini, maka aku pun melanjutkannya.

Oct 6, 2014

Thought via Path

Menjelang mau tidur baru ingat kalau tadi siang sempet tidur lalu bermimpi kalau saya sedang tidur dan bermimpi tentang hal yang membuat saya susah tidur di malam sebelumnya. Jadi sempet mimpi saya sudah terbangun dari mimpi. Sempet berpikir itu udah kenyataan, eh ternyata masih mimpi juga. #selamatmalam – Read on Path.

Reading Pram’s after knowing that he never did proofreading (and also how he orally told the stories while in jail to keep it alive)  brings extra amazement. (Eventhough I’m currently reading the English version instead of archaic Bahasa). 
.
Dan mengingatkan gimana pas masih SD saya dikasih om saya sedikit crash course ttg politik dan orang-orang dibalik layar. Gimana dulu dia bakar buku-buku Pram jaman orde baru.. dan gimana sebenarnya ada makna-makna implisit dibalik cerpen-cerpen yang ditulis di koran, dibalik judul-judul seperti ‘Rumah Kaca’, dll.  #bookexcerpt #pramoedya #childofallnations #readingontrain
Oct 5, 2014

Reading Pram’s after knowing that he never did proofreading (and also how he orally told the stories while in jail to keep it alive) brings extra amazement. (Eventhough I’m currently reading the English version instead of archaic Bahasa).
.
Dan mengingatkan gimana pas masih SD saya dikasih om saya sedikit crash course ttg politik dan orang-orang dibalik layar. Gimana dulu dia bakar buku-buku Pram jaman orde baru.. dan gimana sebenarnya ada makna-makna implisit dibalik cerpen-cerpen yang ditulis di koran, dibalik judul-judul seperti ‘Rumah Kaca’, dll. #bookexcerpt #pramoedya #childofallnations #readingontrain

Ngobrol2 sosiologi tentang independent cafe sampai struktur ‘Technological State’ Singapore. Bisa disebut agak kuliah karena ada dosen sosiologi dan researchers hubungan internasional. Banyak kafe jenis ini menyasar kelas sosial yang berbeda. Eksis dari lama karena subsidi dari pemerintah. It is supported for a reason. Stability, growth, and social welfare are the keywords. Adapun gambarnya adalah banana caramel waffle di ReStore Tanjong Pagar Rd. Kafe ini juga menjual pernak-pernik fashion. #independentcafe #singapore #miniblog #waffle
Oct 4, 2014

Ngobrol2 sosiologi tentang independent cafe sampai struktur ‘Technological State’ Singapore. Bisa disebut agak kuliah karena ada dosen sosiologi dan researchers hubungan internasional. Banyak kafe jenis ini menyasar kelas sosial yang berbeda. Eksis dari lama karena subsidi dari pemerintah. It is supported for a reason. Stability, growth, and social welfare are the keywords. Adapun gambarnya adalah banana caramel waffle di ReStore Tanjong Pagar Rd. Kafe ini juga menjual pernak-pernik fashion. #independentcafe #singapore #miniblog #waffle

Oct 2, 2014

Thought via Path

Seiring dengan mengirim sebuah email, saya teringat kalau dulu si Bapak ini resistansinya tinggi terhadap saya. Dari awal sudah menunjukkan ketidaksetujuannya terhadap adanya mahasiswa di majelis itu. Tapi toh akhirnya kita get along quite well.

Sama halnya dengan beberapa orang yang di awal-awal saya kenal, saya berkonflik dengan mereka. Banyak di antara mereka yang kini justru jadi teman baik. (Biasanya orang-orang tua sih)

Hidup itu seperti prinsip Son Goku, musuh direkrut jadi teman. Prinsip ini didaur ulang oleh Naruto dalam bentuk ceramah panjang untuk mengalahkan musuh yang jauh lebih kuat. #renungankarenanarutogaknongol – Read on Path.

Oct 1, 2014

Some footnote

Lots of stuffs have been going on recently. Lots of ideas. No time to write it properly. No time to do all those stuffs. We have to choose.

I have submitted my QE report to two examiners. What makes a bit sad is I found some errors after it has been submitted. Nevertheless, I want to make it as a means to prove whether the myth true or not: They will not read the report. So, although it’s very risky, I am willing to risk it for the sake of finding the truth.

Because, it turned out that my supervisor didn’t go through all of my formulation. Right before I was going to print my final version, I discovered some mathematical formulation error! It’s on GEV problem, I wrote the matrix pencil incorrectly.

And another stuff, just yesterday, a post-doc was not sure if I implemented the code correctly. I extended the code based on his work. He said some times he made mistake. I worried. I must submit the deadline tomorrow, and all my result is based on that code. So he checked it. And I was so relieved knowing there’s nothing wrong with my noise generation.

I also conveyed my doubt regarding the algorithm we’re currently working on. He explained me with a real case study. In some cases, even the super-resolution algorithm which has very efficient computational complexity could not achieve the very objective of its development. This way, I could appreciate what I’ve been doing as something useful. He said it’s okay for me because he was once feeling the same too. 

Goshhh the world is moving so fast. Our space-time feels like losing its power. Sometimes I wonder, what if I don’t require 10 hours sleep per day? what if I don’t procrastinate? Would I be able to learn all the stuffs I’ve been wanting to learn? To create what I’ve been imagining? Those psychological stuffs, artificial intelligence, chaos theory, quantum physics, behavioral economics, political science… I don’t know why I’m interested into a bunch of stuffs.. almost all stuffs basically. And taking into account how the sum of mankind knowledge and civilization, I must choose.

I remembered my teacher’s saying, “With all these sciences and teachings, we can be anything we want. But we have to choose.”

I finally arrived in a state where I understand how fortunate I am. I was born with multiple-talents. I can be good at anything as long as I want to put my effort on it. I’m a fast learner, with multi-modal type of learning. I was nurtured to handle complexity, trying to find connection between many things. I was exposed to entrepreneurship and politics since I was in elementary school. It’s all the blessing which I often forget to be grateful of.

It’s always hard to realize how we were born with so many advantages over the average human population. Because with a greater blessing, comes the responsibility to redistribute it. Sometimes we’re afraid of it. But, believe me, there must be reasons for it. And we all must realize, all of these belong to God.

Kau mungkin adalah wanita yang mengubah seleraku terhadap makanan. Kini, setiap kali tersaji sushi di hadapanku, aku selalu membayangkan kau yang sedang menunggu di kedai itu. Tempat pertama kali kita makan bersama. Dan mungkin karenamu juga, diam-diam aku selalu merindukan sate padang. Biar bagaimanapun kau adalah kontradiksi sebab dengan segala hygiene itu kau begitu menggemari kol yang digoreng dengan minyak yang sudah menjelantah. Maka aku selalu berikan semua kol goreng itu. Hanya untukmu. Dan jika masih tersisa butiran nasi di piringku, kau akan berkata, “Tumben”. Lalu aku akan menjumputi butiran itu hingga bersih. 
.
Pizza ini. Aku bubuhkan banyak keju. Aku oleskan saus tomat. Asin dan manis bercampur. Lalu aku habiskan semua. Hingga tak bersisa. Kenyang. Seperti kisah kita yang lama sirna. Hanya bisa dikenang. #cerpenabsurd #contohparagrafinkoheren #pizza
Sep 30, 2014

Kau mungkin adalah wanita yang mengubah seleraku terhadap makanan. Kini, setiap kali tersaji sushi di hadapanku, aku selalu membayangkan kau yang sedang menunggu di kedai itu. Tempat pertama kali kita makan bersama. Dan mungkin karenamu juga, diam-diam aku selalu merindukan sate padang. Biar bagaimanapun kau adalah kontradiksi sebab dengan segala hygiene itu kau begitu menggemari kol yang digoreng dengan minyak yang sudah menjelantah. Maka aku selalu berikan semua kol goreng itu. Hanya untukmu. Dan jika masih tersisa butiran nasi di piringku, kau akan berkata, “Tumben”. Lalu aku akan menjumputi butiran itu hingga bersih.
.
Pizza ini. Aku bubuhkan banyak keju. Aku oleskan saus tomat. Asin dan manis bercampur. Lalu aku habiskan semua. Hingga tak bersisa. Kenyang. Seperti kisah kita yang lama sirna. Hanya bisa dikenang. #cerpenabsurd #contohparagrafinkoheren #pizza

Susahnya hidup di era copas. Gak cuman berita men yg salah dishare.. ayat al-Quran pun sampe imajiner.. huft banget.. – View on Path.
Sep 30, 2014

Susahnya hidup di era copas. Gak cuman berita men yg salah dishare.. ayat al-Quran pun sampe imajiner.. huft banget.. – View on Path.